Suatu hari di rumah sakit tugu semarang, tepatnya pada
Hari Rabu, tanggal 20 desember 2011, lahirlah seorang bayi laki-laki tampan,
sehat dan putih kulitnya. Dengan sangat bahagia kami orang tuanya menyambut
kehadirannya didunia, walaupun saat itu mamanya terlihat kurang sehat karena
baru saja melahirkan dengan cara cesar… dibawalah bayi kami keruangan perawatan
ibu dan anak… kami melihat bayi kami dibedong dengan hangatnya tidur pulas
sekali dan sesekali menangis… sorepun berlalu datanglah malam… malam itulah
pengalaman itu dimulai…..
Pengalaman
hari pertama, Rabu 11 Desember 2011
Saat itu saya ditemani oleh Ibu saya, kedua mertua dan
adik ipar dan anak kedua saya yang bernama naura, sedang harap-harap cemas
menunggu kelahiran anak kedua kami… saya sangat cemas karena itu pertama
kalinya istri saya fani menjalani operasi, tapi kami sudah menguatkan hatinya
agar ikhlas dan semangat. Saat itu tepat jam 9.30 pagi harinya saya lupa… lama
sekali kami menunggu diluar ruang operasi tapi saya selalu berpikiran positif
dan mulut ini selalu tidak berhenti “dremimil” berdoa, saat itu saya dibekali
oleh ibu saya untuk selalu membaca surat alam nasroh, karena surat itu memiliki
arti bahwa didalam kesulitan selalu ada kemudahan.
Tidak pernah berhenti mulut ini berdoa, begitupun ibu
saya, bapak dan ibu mertua saya sangat khusyu berdoa demi meminta pertolongan
pada Allah untuk diberi kelancaran dalam proses operasi cesar istri saya.
Satu persatu pasien keluar, sampai pasien ke 5,6,7
istri saya kok belum keluar juga, setiap pegawai yang keluar dari ruangan
operasi saya dekati lalu saya tanyakan, walaupun jawabannya tetap tidak tahu
tapi saya tetap tanya sama semua petugas yang baru saja keluar… pasien ke 10,11
dan tibalah istri saya keluar dengan anak saya disampingnya sambil menangis.
Subhanallah walhamdulillah ku ucapkan setelah aku melihat
anak dan istriku selamat. Terima kasih ya Allah, tidak berhenti bersyukur kami
semua mengucapkan pada Allah swt. Sambil didorong dengan bed nya kami mengikuti
sampai ke kamar perawatan, dan anak saya lalu dibawa untuk dibersihkan dari
sisa-sisa kotoran yang menempel ditubuhnya.
Setelah selesai lalu saya cepat-cepat meminta izin
kepada pihak ruangan untuk meng adzani ditelinga kanan dan iqomad ditelinga
kiri, sambil merinding, haru dan bahagia, anakku terlahir selamat.
Sore pun tiba kamipun secara bergantian mengintip dari
luar jendela, tampak anak saya menangis terus, mungkin haus tapi istri saya
belum juga sadar penuh dari biusnya. Malam pun tiba, sekitar jam 11 malam
ketika saya sedang tidur saya dibangunkan oleh suster ruangan, dia mengatakan
“maaf pak, bisa bicara sebentar?”, “ iya
suster ada apa?” tanya saya penasaran. “ begini pak, ada masalah dengan anak
bapak pernafasannya terganggu, jadi malam ini juga harus dibawa keruang ICU”.
Saya sangat kaget sampai-sampai saya tidak bisa berbicara apa-apa lagi, saya
langsung bangun dan mengikuti kemana suster itu pergi sambil membawa anak saya.
Ternyata benar, anak saya sudah dimasukkan kedalam
incubator dan dipakaikan helm oksigen untuk membantu pernafasan, ya Allah
kasian sekali dia, dalam hatiku langsung berdoa yang tiada putusnya sampai
keruangan ICU ditemani oleh bapak mertua saya. Beliau sangat kaget dan pucat
sekali saya melihat dari wajahnya.
Malam itu begitu menegangkan buat kami, kami meilih
menunggu didepan pintu ICU agar selalu bisa mendapat informasi perkembangan
anak saya setiap saat. Saya ditemani bapak mertua dan kami selalu memanjatkan
doa untuk anak saya tercinta. Hingga pagipun datang dan kami baru bisa
mendapatkan informasi, saya diajak masuk keruangan ICU dan melihat anak saya
yang baru berumur 1 hari sudah harus merasakan sakit, tidak kuat rasanya
melihat kedaannya saat itu.
Lalu saya mendatangi istri saya yang beradfa diruang
perawatan, awalnya dia tidak curiga, tapi setelah beberapa jam berlalu dia
mulai menanyakan bayi kami, sayapun sangat sulit menyimpan kegelisahan hati
walau saya berusaha tenang. Saya menenangkan istri saya dengan mengatakan “anak
kita baik-baik saja ma, tetap berdoa ya ma, barusan aku melihat anak kita”.
Lalu dia bisa tenang pagi itu, tapi sampai pagi kenapa
anak kami tidak juga dikirim keruang perawatan, sedangkan teman-teman pasien
seruangan setelah melahirkan sudah langsung bisa menyusui anaknya. Istri saya
mulai curiga dan khawatir. Berkali-kali dia telepon saya tapi saya tidak
mengangkatnya karena saya lagi menengok anak kami diruang ICU.
Saya melihat ada panggilan tak terjawab sampai 5 kali
dari handphone istri saya, dan saya langsung naik kekamar perawatan yang
kebetulan dilantai 2. Saya kaget istri saya dan ibu mertua menangis, istri saya memaksa
saya untuk menjelaskan apa yang terjadi. Sayapun tidak bisa menolak karena
mungkin dia merasakan ada yang aneh, saya ceritakan pelan-pelan dan dia terus
menangis. Saya coba menguatkan dia dengan banyak cara, yang penting tetap harus
bersabar dan ikhlas, akhirnya dia bisa bersabar tapi belum bisa ikhlas dan
memaksa saya untuk mengantarkannya keruangan ICU. Saya menolak dengan alasan
bekas jahitan operasinya belum kering, akhirnya dia bisa tenang dan tertidur.
Hari ke-2
Semalaman saya dan bapak mertua berada di depan pintu
ICU, dan terus berdoa dan berdoa, saya pantang menyerah mendoakannya dengan doa
yang saya bisa. Saya mendapat kabar katanya dokter yang menangani anak saya
hari ini datang dan silahkan kalau mau berkonsultasi, begitu penjelasan suster.
Saya menunggu kedatangan dokter Lely namanya. Jam menunjukkan pukul 10.00
dokterpun datang, dan saya mengikuti keruangan ICU dan melihat dokter lely
sedang memeriksa anak saya, setelah itu saya menemuinya.
Saya tanyakan banyak hal, tetapi dokter lely hanya bisa
menjelaskan seadanya karena baru hari pertama memeriksa anak saya, dan baru
dilakukan observasi terhadap masalah yang dihadapi anak saya. Lalu dokter lely pulang
sambil menguatkan saya, “ Bapak yang sabar ya”.
Lalu saya ceritakan pada istri saya, tentang pertemuan
saya dengan dokter lely. Istri saya menangis terus karena rindu dan selalu
tanya “ anak kita ga papa kanpa?”, saya jawab,”Alhamdulillah ga papa walaupun
belum ada perkembangan.
Hari ke-3
Saya menemui dokter lely lagi setelah memeriksa anak
saya, dan kali ini sudah ada sedikit penjelasan karena hasil observasi sudah
keluar. Beliau menjelaskan bahwa anak saya mengalami masalah yang unik bahkan
beliau sempat menyebut Asfeksia, sampai saat ini saya tidak tahu penyakit apa
itu. “Lalu dok bagaimana perkembangannya hari ini?” tanya saya, “ bapak berdoa
saja dan percayakan pada rumah sakit”.
Setiap saat sholat tiba, sesegera mungkin saya sholat
berjamaah di masjid dilingkungan Rumah sakit, berlama-lama saya dimasjid untuk
mendoakan anak saya agar selamat dan bisa berada ditengah-tengah keluarga
kelak. Dan tidak lupa saya selalu bersedekah memasukkan uang berapapun yang ada
dikantong saya saat itu, masukkan uang sambil berdoa.
Hari ke-4
Hari itu istri saya sudah dibolehkan pulang, tapi istri
saya tidak mau pulang, bahkan dengan sambil menahan rasa sakit akibat jahitan
diperutnya bekas operasi dia tetap memutuskan untuk tidak pulang dan memilih
menunggui sikecil didepan ruang ICU. Padahal saat itu kami semua harus gelar
tikar untuk bisa duduk, istri saya dengan tekadnya tetap ikut duduk dibawah
padahal saat itu dokter menyarankan dia harus beristirahat dengan nyaman.
Hari itu juga, istri saya memaksa untuk masuk ruangan
ICU dan itulah kali kedua istri dan sikecil bertemu. Tidak bisa menahan air
matanya akhirnya dia menagis karena sedihnya melihat sikecil harus berjuang
hidup tanpa didampingi papa mamanya. Istri saya berusaha memegang tangan
sikecil tapi tidak diperbolehkan oleh suster karena sikecil harus terhindar dari
kotoran dan debu yang mungkin terbawa oleh kami.
Cukup lama kami diruangan ICU, dan akhirnya waktunya
habis karena ada keluarga lain yang ingin menengok keluarganya yang ada di satu
ruangan dengan anak saya, dan kami harus bergantian baju. Sedih sekali kami
saat harus keluar ruangan, istri saya nangis terus.
Siangnya kami menemui dokter lely lagi, kami langsung
tanya “bagaimana dok anak saya, tidak apa-apa kan? Perkembangannya bagaimana
dok?”, dokter lely dengan kebaikan dan kesabarannya menjelaskan pada kami,
walau kami hari itu melihat sepertinya dokter lely sedikit berbeda raut
wajahnya, lalu dia menjelaskan, bahwa anak saya masih harus perawatan intensif
karena ada beberapa hal yang harus selalu dicek ke laboratorium.
Terkadang suster meminta bantuan saya untuk ke lab
sambil membawa darah anak saya, saya rela demi anak saya, dan juga memang saya
mengikuti program JAMPERSAL (Jaminan Persalinan). Jadi semua yang dibutuhkan
oleh ruang ICU untuk kepentingan anak saya, harus saya yang mengerjakan, seperti
: bawa sample darah ke lab, ambil obat ke apotik, foto copy persyaratan, dll.
Itu setiap hari dan setiap saat dibutuhkan harus segera dilakukan. Saya ikhlas
demi kesembuhan anak saya, tidak ada pikiran lain-lain saat itu kecuali manut
dengan dokter dan apa yang disuruh.
Hari ke-5
Hari ini banyak sekali saudara-saudara datang menjenguk
anak saya dan sekedar memberi motivasi untuk kami. Sedikit terhibur kami dengan
kedatangan sanak family dan para tetangga. Sungguh saya sangat berterima kasih
pada semua orang yang perhatian dengan kami dan doa-doa dari mereka yang kami
harapkan.
Dihari ini pula kami mendapatkan informasi yang agak
terang dari dokter lely, beliau menjelaskan bahwa anak saya mengalami gagal
nafas tapi masih bisa diatasi dengan bantuan alat-alat diruangan. Saya selalu
mengatakan disetiap pertemuan dengan dokter, “ tolong bantu anak saya dokter,
saya percaya dengan dokter lely yang menangani anak saya”. Dokter lely menjawab
“ saya lakukan semampu saya pak, tapi doa dari keluargalah yang paling besar
manfaatnya bagi anak bapak, jadi tetap bersabar dan ikhlas”.
Hari ke-6
Hari ini kami kedatangan banyak tamu lagi dari sanak
saudara, dan kami bersyukur semakin banyak yang mendoakan anak kami. Dan
haripun berjalan seperti biasa dan saya ingin bercerita tentang bagaimana
kondisi kami saat itu, benar-benar kondisi yang tidak biasa dan bahkan tidak
normal, karena setiap saat hari setiap saat kami dapat panggilan dari ruangan,
“Bayi mu’arifani” begitu biasa panggilan suster jika ingin memberikan informasi
tentang perkembangan kondisi sikecil, hati rasanya deg-degan saat dipanggil
suster, itu hampir setiap saat dan setiap waktu siang hingga dini hari.
Dan yang lebih mendebarkan lagi hampir setiap waktu
kami menyaksikan orang-orang meninggal diruangan ICU dan kereta dorongnya
selalu melewati kami karena tempat kami duduk diemperan lorong ruang ICU.
Situasi selalu menegangkan, apalagi jika itu terjadi tengah malam, wuih situasi
yang tidak pernah terbayangkan.
Saya dan istri selalu bolak balik masuk keruangan ICU
walau selalu dipelototi suster, saya hanya tidak sabar ingin segera melihat
perkembangan kesembuhan anak saya.
Hari ke-7
Kami menunggu dokter lely seperti biasa untuk segera
mengetahui bagaimana kondisi sikecil hari ini, dan saat itu dokter lely menjelaskan
bahwa ada penurunan kesehatan anak saya, nafasnya tidak teratur dan ada virus
yang aktif dalam tubuhnya. Saya semakin penasaran apa maksud dokter lely,
ditambah lagi saat saya bertemu beliau di satu lorong rumah sakit dan saya coba
menegaskan lagi dengan bertanya “ dok, tapi anak saya tidak apa-apa kan?”.
Jawaban dokter kali ini membuat saya hampir frustasi, beliau menjelaskan “ pak,
kalau mau program lagi bisa konsultasi dengan saya” saya semakin bingung dengan
penyataan beliau.
Saya tanya lagi “dok, maksudnya bagaimana?”, “bapak
harus ikhlas apapun yang akan terjadi, hanya doa orang tua dan keluargalah yang
bisa membantu.” Lalu saya kembali ke ruangan ICU memang saat itu saya melihat
kondisi anak saya tidak seperti biasanya, hari-hari sebelumnya wajahnya begitu
tenang, lain dengan hari ini wajahnya agak pucat, kuning dan nafas yang
setengah-setengah. Ya Allah hamba memohon berikanlah kekuatan pada anak hamba,
bantulah perjuangannya, hamba yakin engkau akan berikan yang terbaik, sambil
saya selipkan pikiran positif dan saya bacakan al-faatihah diluar box
incubator.
Hari ke-8
Pagi hari begitu cerahnya saya, istri saya dan mertua
saya selalu menunggu dengan penuh harap agar selalu ada kabar baik, tidak lepas
kami berdoa, shalat fardhu, shalat tahajud, shalat duha, dan sedekah.
Tapi saat itu ternyata, anak saya dalam kondisi drop
dan siangnya saya dipanggil untuk masuk dalam ruangan ICU, saya kaget ternyata
sudah ada beberapa perawat disekitar anak saya dan mereka terlihat begitu
sibuknya, saya penasaran dan mulai mendekati, ternyata anak saya sedang dipompa
dadanya dan juga dari mulutnya… astagfirullah hal adzim…ya allah berilah
kekuatan pada anak hamba, dan berilah kesabaran pada para perawat yang
menangani anak hamba” itulah doa saya saat itu. Dan dengan besar hati serta
kesabaran saya berusaha melihat prosesnya walau tidak kuat rasanya menyaksikan
perlakuan tersebut. Lalu saya coba untuk ikhlas, sekitar 15-20 menit sedih
sekali rasanya tapi tidak mungkin saya tinggal.
Saya yakin dengan keberadaan saya disampingnya
insyallah dapat menguatkannya, saya memprogram pikiran saya untuk selalu
positif dan terus berdoa. Alhamdulillah masa kritisnya sudah lewat, saya
ucapkan syukur yang teramat pada Allah dan mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya pada para perawat yang membantu anak saya.
Lalu saya keluar dan bicara pada istri saya, dengan
isak tangisnya dia bertanya “ada apa pa? tidak ada apa-apa kan?” saya jawab
“tidak apa-apa ma” saya melihat kegelisahan diwajah mertua saya. Lalu setelah
mereka agak tenang saya menceritakan yang baru saja terjadi. Mereka kaget dan
luar biasa bersyukurnya setelah mengetahui kejadian sebenarnya dan sikecil
telah lewat masa kritisnya.
Hari ini hari yang luar biasa buat kami karena Allah
begitu baiknya dan sebegitu cepatnya doa saya terkabul. Seperti biasanya setiap
sehabis shalat berjamaah di masjid saya selalu memasukkan uang ke kotak mesjid
dengan selalu berdoa demi kesembuhan anak kami.
Hari ke-9
Kami kedatangan tamu lagi dari sanak saudara dan
tetangga, dan hari itu kami konsultasi dengan dokter lely, dokter mengatakan
kalau dalam saluran nafas anak saya ada benjolan sehingga itulah kemungkinan
mengapa anak saya mengalami kesulitan bernafas, dan yang lebih membuat saya
kaget ada kemungkinan paru-paru anak saya tidak mengembang, bisa dibayangkan
paru-paru kecil ditambah lagi dengan benjolan tidak jelas yang ada disaluran
pernafasan, berarti begitu berjuangnya anak saya sampai hari ke-9 bisa
bertahan.
Lalu saya ceritakan kepada keluarga, tapi saat itu saya
senang saya mendapatkan penjelasan dari keluarga kebetulan om atau adik bapak
mertua, beliau menguatkan saya tentang benjolan yang terlihat di hasil ronsen
itu bukan penyakit, tapi lebih kepada saat melahirkan bisa saja perawat atau
dokter melakukan kesalahan prosedur saat mengambilnya dari perut istri saya.
Jadi bisa saja tekanan dari tangan perawat yang menyebabkan seperti benjolan,
karena memegang tubuh bayi yang masih lunak.
Apapun alasannya saat itu saya seperti terbangun dari
keputus asaan saya dan dari dugaan-dugaan negative. Semua masuk akal apa yang
sudah diceritakan om saya, Alhamdulillah semoga benar adanya.
Hari ke-10, ke-11, ke-12, ke-13 berjalan seperti biasa
dan memang belum ada perkembangan secara signifikan. Tapi hati saya cukup
tenang karena setiap dokter lely keluar dari ruangan selalu senyum pada kami,
saya mengartikan kondisi anak saya membaik dan selalu saya selipkan pikiran
positif.
Memang seorang dokter tidak boleh memberikan suatu
harapan pada keluarga pasiennya, itu kode etik para dokter. Tapi yang saya
salut pada dokter lely adalah saat situasi genting dan tak terhindarkan beliau
selalu menguatkan saya dengan bicara “ Pak, ilmu kedokteran memang rumit tapi
bagi Allah tidak ada yang sulit”. Kata-kata itu semakin membangkitkan semangat
saya bahwa anak saya pasti bisa sembuh.
Hari ke-14
Belum juga selesai cobaan kami, Malam nya anak saya
mengalami drop lagi, sehingga saya dipanggil keruangan ICU, suster mengatakan “
Pak, anak bapak drop lagi, tapi kami sudah menanganinya sebaik mungkin, rumah
sakit menyarankan agar anak bapak dipindah saja ke rumah sakit kariadi
semarang, lagi pula ada pasien lain yang membutuhkan alat tersebut, karena alat
kami hanya 2”, saya kaget bukan main sambil saya tatap anak saya dan saya
katakana “suster, anak saya belum sembuh, dan malah harus dipindah kerumah
sakit lain, apakah rumah sakit akan tanggung jawab jika terjadi apa-apa
dijalan? Sudah, pokoknya lakukan yang terbaik saya percaya pada rumah sakit
ini”.
Lalu saya shalat dan berdoa kembali pada Allah, untuk
meminta pertolongan kesembuhan anak saya. Begitu juga keluarga saya yang ikut
nunggu di rumah sakit semakin kuat berdoanya dan sedekahnya.
Istri saya mempunyai usul, “ pa, itu ada uang 100 ribu,
papa keluar deh berikan sama semua orang yang kira-kira membutuhkan” bergegas
saya lakukan usul istri saya, dan selesai ditambah lagi setiap habis shalat
kami selalu memasukkan uang ke kotak amal dimesjid sambil berdoa.
Hari ke-15
Saya sangat bersyukur, walau anak saya masih didalam
ruangan tapi kami ditemani bapak, ibu mertua dan adik-adik yang tidak pernah
pulang kerumah semata-mata ingin membantu dan member semangat kami berdua, juga
ibu saya yang selalu menjaga anak pertama saya dirumah, doa mereka pasti
langsung sampai pada Allah. Keluarga yang hebat sungguh luar biasa, kamitidak
tahu apa yang akan terjadi tanpa dukungan mereka semua beserta doa mereka.
Dihari itu, saya dipanggil lagi ke ruangan ICU untuk
menyaksikan anak saya belajar bernafas dengan melepas selang ventilator yang
ada dimulutnya, memang beberapa kali dicoba tidak berhasil. Cukup membuat kami
was-was lagi, karena kami berfikiran apakah ini tindakan rumah sakit demi agar
mesin yang dipakai anak saya bisa dilepas. Saya sempat berfikir seperti itu.
Tapi pikiran negative itu coba saya hilangkan dengan
menggantinya dengan pikiran positif. Memang mungkin sudah saatnya belajar
bernafas.
Hari ke-16
Hari itu saya dan istri lebih intensif masuk ke ruangan
untuk memberi semangat dengan memegang tangan anak kami, dan sudah ada respon
dengan menggerakkan jarinya dan senyum sedikit-demi sedikit. Istri saya selalu
memberikan ASI pada sikecil dari mulai hari ke-4 hingga hari ini. Sebab dokter
selalu bilang ASI bisa membantu penyembuhan anak kami. Walau memberikannya lewat
Infus yang dimasukkan kedalam selang yang masuk kelambungnya.
Lalu saya lakukan lagi sedekah kebanyak orang dan
mengisi kotak dimasjid.
Hari ke-17
Hari yang luar biasa, ternyata hari ini kami mendapat
kabar gembira karena tanpa disangka anak saya bisa melepaskan sendiri selang
ventilatornya dari mulutnya, sehingga semua perawat kaget anak saya bisa
bernafas dengan normal tanpa selang. Dan gerakannya yang sudah luar biasa
membuat kami senang dan bahagia melihatnya.
Terus terang saya ceritakan peristiwa tesebut terjadi
setelah saya memberikan sebuah buku motivasi kepada adik ipar saya, dan saat
itu pula suster memberi kabar baik tersebut.
Alhamdulillah wa syukurillah Allah Swt menjawab doa
kami dengan menyembuhkan anak kami.
Hari ke-18
Anak saya dibawa keruangan perawatan intensif khusus
bayi setelah mengalami perawatan di ruang ICU khusus anak-anak.
Anak saya masih dirawat selama 5 hari diruang perawatan
intensif sebab haris menjalani fisioterapi/penyinaran pada tubuh dengan sinar
ultraviolet.
Dan dihari kelima diruang perawatan akhirnya kami
dipanggil dan dijelaskan bahwa anak kami sudah boleh dibawa pulang, dan
dijelaskan sedikit cara merawat bayi. Dan setelah itu kami diberikan
print-prinan rincian biaya selama dirawat. Dan saya sangat kaget ternyata
jumlahnya sebesar Rp.34.000.000 (34 juta).
Saya tanyakan pada perawat,” mba biayanya besar sekali
bagaimana saya harus bayar saya tidak mempunyai uang sebesar itu”. Suster
menjawab bapak kan ikut program JAMPERSAL, jadi bapak tidak perlu keluar uang
karena semua sudah ditanggung oleh Negara.
Saya memastikan dengan segera pergi ke kasir rumah
sakit, saya masukkan dan menunggu panggilan. Setelah dipanggil ternyata benar…
saya tidak membayar sepeserpun.
Alhamdulillahi robbil alamin, maha besar Allah. Saya
telah diberikan Anak yang sehat dan pelayanan yang GRATIS pula. Luar biasa rasa
syukur kami.
memang tidak ada yang sulit bagi Allah tapi tidak ada
yang mudah bagi manusia, karena Allah menyembunyikan kemudahan-kemudahan
didalam kesulitan-kesulitan.
Begitulah cerita pengalaman saya dan selalu
mengingatkan saya akan kebesaran Allah, saat kita mendekat Allah pun dekat,
jika kita menjauh Allahpun menjauh.
Tanpa ikhtiar yang besar dan penuh pengorbanan mustahil
bantuan akan datang, sebenarnya ada doa yang saya panjatkan saat saya
berikhtiar atas kesembuhan anak saya… setiap saat saya baca, sehabis sholat,
ketika sendiri, setiap saya baca saya merasakan kekuatan yang menyelimuti hati
saya dan membuat mental jadi besar.
Maka
sebenarnya kita harus lebih bersyukur karena masalah yang kita hadapi tidak
seberat yang lainnya. Jika anda bisa memilih manakah yang lebih ringan…
sebagian besar orang pasti menjawab lebih baik tidak memilih semuanya, tapi
ingat sahabatku… semua orang akan dicoba kualitas hidupnya tak terkecuali para
nabi…
-
Nabi Nuh dengan banjir besarnya dan anaknya jadi
korban banjir
-
Nabi Musa dengan kekafiran raja fir’aun yang
hendak membunuhnya
-
Nabi Muhammad dengan kaum qurais yang bengis
-
Nabi Ibrahim yang dicoba untuk menyembelih
anaknya
-
Nabi Luth dengan penyakit kulitnya yang tak
kunjung sembuh
-
Nabi Yusuf dengan wanita yang selalu
menggodanya
Itu
adalah sebagian cerita hidup dari para nabi, yang kalau kita mau berpikir para
Nabi saja yang sudah jelas-jelas Manusia Pilihan oleh ALLAH masih tidak luput dari Cobaan,
apalagi kita manusia yang jelas-jelas banyak dosa. Oleh karena kesabaran ,besar
hati, selalu berusaha dan berserah diri maka mereka diangkat menjadi Nabi oleh
ALLAH SWT.
Didalam
kesulitan pasti ada kemudahan dan hati-hati didalam kemudahan bersembunyi
kesulitan yang siap menghadang kalau kita lalai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar