Rabu, 12 Maret 2014



Suatu hari di rumah sakit tugu semarang, tepatnya pada Hari Rabu, tanggal 20 desember 2011, lahirlah seorang bayi laki-laki tampan, sehat dan putih kulitnya. Dengan sangat bahagia kami orang tuanya menyambut kehadirannya didunia, walaupun saat itu mamanya terlihat kurang sehat karena baru saja melahirkan dengan cara cesar… dibawalah bayi kami keruangan perawatan ibu dan anak… kami melihat bayi kami dibedong dengan hangatnya tidur pulas sekali dan sesekali menangis… sorepun berlalu datanglah malam… malam itulah pengalaman itu dimulai…..

 

Pengalaman hari pertama, Rabu 11 Desember 2011

 

Saat itu saya ditemani oleh Ibu saya, kedua mertua dan adik ipar dan anak kedua saya yang bernama naura, sedang harap-harap cemas menunggu kelahiran anak kedua kami… saya sangat cemas karena itu pertama kalinya istri saya fani menjalani operasi, tapi kami sudah menguatkan hatinya agar ikhlas dan semangat. Saat itu tepat jam 9.30 pagi harinya saya lupa… lama sekali kami menunggu diluar ruang operasi tapi saya selalu berpikiran positif dan mulut ini selalu tidak berhenti “dremimil” berdoa, saat itu saya dibekali oleh ibu saya untuk selalu membaca surat alam nasroh, karena surat itu memiliki arti bahwa didalam kesulitan selalu ada kemudahan.

 

Tidak pernah berhenti mulut ini berdoa, begitupun ibu saya, bapak dan ibu mertua saya sangat khusyu berdoa demi meminta pertolongan pada Allah untuk diberi kelancaran dalam proses operasi cesar istri saya.  

 

Satu persatu pasien keluar, sampai pasien ke 5,6,7 istri saya kok belum keluar juga, setiap pegawai yang keluar dari ruangan operasi saya dekati lalu saya tanyakan, walaupun jawabannya tetap tidak tahu tapi saya tetap tanya sama semua petugas yang baru saja keluar… pasien ke 10,11 dan tibalah istri saya keluar dengan anak saya disampingnya sambil menangis. 

 

Subhanallah walhamdulillah ku ucapkan setelah aku melihat anak dan istriku selamat. Terima kasih ya Allah, tidak berhenti bersyukur kami semua mengucapkan pada Allah swt. Sambil didorong dengan bed nya kami mengikuti sampai ke kamar perawatan, dan anak saya lalu dibawa untuk dibersihkan dari sisa-sisa kotoran yang menempel ditubuhnya.

 

Setelah selesai lalu saya cepat-cepat meminta izin kepada pihak ruangan untuk meng adzani ditelinga kanan dan iqomad ditelinga kiri, sambil merinding, haru dan bahagia, anakku terlahir selamat.

 

Sore pun tiba kamipun secara bergantian mengintip dari luar jendela, tampak anak saya menangis terus, mungkin haus tapi istri saya belum juga sadar penuh dari biusnya. Malam pun tiba, sekitar jam 11 malam ketika saya sedang tidur saya dibangunkan oleh suster ruangan, dia mengatakan “maaf pak, bisa bicara sebentar?”,  “ iya suster ada apa?” tanya saya penasaran. “ begini pak, ada masalah dengan anak bapak pernafasannya terganggu, jadi malam ini juga harus dibawa keruang ICU”. Saya sangat kaget sampai-sampai saya tidak bisa berbicara apa-apa lagi, saya langsung bangun dan mengikuti kemana suster itu pergi sambil membawa anak saya.

 

Ternyata benar, anak saya sudah dimasukkan kedalam incubator dan dipakaikan helm oksigen untuk membantu pernafasan, ya Allah kasian sekali dia, dalam hatiku langsung berdoa yang tiada putusnya sampai keruangan ICU ditemani oleh bapak mertua saya. Beliau sangat kaget dan pucat sekali saya melihat dari wajahnya.

 

Malam itu begitu menegangkan buat kami, kami meilih menunggu didepan pintu ICU agar selalu bisa mendapat informasi perkembangan anak saya setiap saat. Saya ditemani bapak mertua dan kami selalu memanjatkan doa untuk anak saya tercinta. Hingga pagipun datang dan kami baru bisa mendapatkan informasi, saya diajak masuk keruangan ICU dan melihat anak saya yang baru berumur 1 hari sudah harus merasakan sakit, tidak kuat rasanya melihat kedaannya saat itu.

 

Lalu saya mendatangi istri saya yang beradfa diruang perawatan, awalnya dia tidak curiga, tapi setelah beberapa jam berlalu dia mulai menanyakan bayi kami, sayapun sangat sulit menyimpan kegelisahan hati walau saya berusaha tenang. Saya menenangkan istri saya dengan mengatakan “anak kita baik-baik saja ma, tetap berdoa ya ma, barusan aku melihat anak kita”.

 

Lalu dia bisa tenang pagi itu, tapi sampai pagi kenapa anak kami tidak juga dikirim keruang perawatan, sedangkan teman-teman pasien seruangan setelah melahirkan sudah langsung bisa menyusui anaknya. Istri saya mulai curiga dan khawatir. Berkali-kali dia telepon saya tapi saya tidak mengangkatnya karena saya lagi menengok anak kami diruang ICU.

 

Saya melihat ada panggilan tak terjawab sampai 5 kali dari handphone istri saya, dan saya langsung naik kekamar perawatan yang kebetulan dilantai 2. Saya kaget istri saya  dan ibu mertua menangis, istri saya memaksa saya untuk menjelaskan apa yang terjadi. Sayapun tidak bisa menolak karena mungkin dia merasakan ada yang aneh, saya ceritakan pelan-pelan dan dia terus menangis. Saya coba menguatkan dia dengan banyak cara, yang penting tetap harus bersabar dan ikhlas, akhirnya dia bisa bersabar tapi belum bisa ikhlas dan memaksa saya untuk mengantarkannya keruangan ICU. Saya menolak dengan alasan bekas jahitan operasinya belum kering, akhirnya dia bisa tenang dan tertidur.

 

Hari ke-2

Semalaman saya dan bapak mertua berada di depan pintu ICU, dan terus berdoa dan berdoa, saya pantang menyerah mendoakannya dengan doa yang saya bisa. Saya mendapat kabar katanya dokter yang menangani anak saya hari ini datang dan silahkan kalau mau berkonsultasi, begitu penjelasan suster. Saya menunggu kedatangan dokter Lely namanya. Jam menunjukkan pukul 10.00 dokterpun datang, dan saya mengikuti keruangan ICU dan melihat dokter lely sedang memeriksa anak saya, setelah itu saya menemuinya.

 

Saya tanyakan banyak hal, tetapi dokter lely hanya bisa menjelaskan seadanya karena baru hari pertama memeriksa anak saya, dan baru dilakukan observasi terhadap masalah yang dihadapi anak saya. Lalu dokter lely pulang sambil menguatkan saya, “ Bapak yang sabar ya”.

 

Lalu saya ceritakan pada istri saya, tentang pertemuan saya dengan dokter lely. Istri saya menangis terus karena rindu dan selalu tanya “ anak kita ga papa kanpa?”, saya jawab,”Alhamdulillah ga papa walaupun belum ada perkembangan.

 

Hari ke-3

 

Saya menemui dokter lely lagi setelah memeriksa anak saya, dan kali ini sudah ada sedikit penjelasan karena hasil observasi sudah keluar. Beliau menjelaskan bahwa anak saya mengalami masalah yang unik bahkan beliau sempat menyebut Asfeksia, sampai saat ini saya tidak tahu penyakit apa itu. “Lalu dok bagaimana perkembangannya hari ini?” tanya saya, “ bapak berdoa saja dan percayakan pada rumah sakit”.

 

Setiap saat sholat tiba, sesegera mungkin saya sholat berjamaah di masjid dilingkungan Rumah sakit, berlama-lama saya dimasjid untuk mendoakan anak saya agar selamat dan bisa berada ditengah-tengah keluarga kelak. Dan tidak lupa saya selalu bersedekah memasukkan uang berapapun yang ada dikantong saya saat itu, masukkan uang sambil berdoa. 

 

Hari ke-4

 

Hari itu istri saya sudah dibolehkan pulang, tapi istri saya tidak mau pulang, bahkan dengan sambil menahan rasa sakit akibat jahitan diperutnya bekas operasi dia tetap memutuskan untuk tidak pulang dan memilih menunggui sikecil didepan ruang ICU. Padahal saat itu kami semua harus gelar tikar untuk bisa duduk, istri saya dengan tekadnya tetap ikut duduk dibawah padahal saat itu dokter menyarankan dia harus beristirahat dengan nyaman.

 

Hari itu juga, istri saya memaksa untuk masuk ruangan ICU dan itulah kali kedua istri dan sikecil bertemu. Tidak bisa menahan air matanya akhirnya dia menagis karena sedihnya melihat sikecil harus berjuang hidup tanpa didampingi papa mamanya. Istri saya berusaha memegang tangan sikecil tapi tidak diperbolehkan oleh suster karena sikecil harus terhindar dari kotoran dan debu yang mungkin terbawa oleh kami.

 

Cukup lama kami diruangan ICU, dan akhirnya waktunya habis karena ada keluarga lain yang ingin menengok keluarganya yang ada di satu ruangan dengan anak saya, dan kami harus bergantian baju. Sedih sekali kami saat harus keluar ruangan, istri saya nangis terus.

 

Siangnya kami menemui dokter lely lagi, kami langsung tanya “bagaimana dok anak saya, tidak apa-apa kan? Perkembangannya bagaimana dok?”, dokter lely dengan kebaikan dan kesabarannya menjelaskan pada kami, walau kami hari itu melihat sepertinya dokter lely sedikit berbeda raut wajahnya, lalu dia menjelaskan, bahwa anak saya masih harus perawatan intensif karena ada beberapa hal yang harus selalu dicek ke laboratorium. 

 

Terkadang suster meminta bantuan saya untuk ke lab sambil membawa darah anak saya, saya rela demi anak saya, dan juga memang saya mengikuti program JAMPERSAL (Jaminan Persalinan). Jadi semua yang dibutuhkan oleh ruang ICU untuk kepentingan anak saya, harus saya yang mengerjakan, seperti : bawa sample darah ke lab, ambil obat ke apotik, foto copy persyaratan, dll. Itu setiap hari dan setiap saat dibutuhkan harus segera dilakukan. Saya ikhlas demi kesembuhan anak saya, tidak ada pikiran lain-lain saat itu kecuali manut dengan dokter dan apa yang disuruh.

 

 

Hari ke-5

 

Hari ini banyak sekali saudara-saudara datang menjenguk anak saya dan sekedar memberi motivasi untuk kami. Sedikit terhibur kami dengan kedatangan sanak family dan para tetangga. Sungguh saya sangat berterima kasih pada semua orang yang perhatian dengan kami dan doa-doa dari mereka yang kami harapkan.

 

Dihari ini pula kami mendapatkan informasi yang agak terang dari dokter lely, beliau menjelaskan bahwa anak saya mengalami gagal nafas tapi masih bisa diatasi dengan bantuan alat-alat diruangan. Saya selalu mengatakan disetiap pertemuan dengan dokter, “ tolong bantu anak saya dokter, saya percaya dengan dokter lely yang menangani anak saya”. Dokter lely menjawab “ saya lakukan semampu saya pak, tapi doa dari keluargalah yang paling besar manfaatnya bagi anak bapak, jadi tetap bersabar dan ikhlas”.

 

Hari ke-6

 

Hari ini kami kedatangan banyak tamu lagi dari sanak saudara, dan kami bersyukur semakin banyak yang mendoakan anak kami. Dan haripun berjalan seperti biasa dan saya ingin bercerita tentang bagaimana kondisi kami saat itu, benar-benar kondisi yang tidak biasa dan bahkan tidak normal, karena setiap saat hari setiap saat kami dapat panggilan dari ruangan, “Bayi mu’arifani” begitu biasa panggilan suster jika ingin memberikan informasi tentang perkembangan kondisi sikecil, hati rasanya deg-degan saat dipanggil suster, itu hampir setiap saat dan setiap waktu siang hingga dini hari.

 

Dan yang lebih mendebarkan lagi hampir setiap waktu kami menyaksikan orang-orang meninggal diruangan ICU dan kereta dorongnya selalu melewati kami karena tempat kami duduk diemperan lorong ruang ICU. Situasi selalu menegangkan, apalagi jika itu terjadi tengah malam, wuih situasi yang tidak pernah terbayangkan.

 

Saya dan istri selalu bolak balik masuk keruangan ICU walau selalu dipelototi suster, saya hanya tidak sabar ingin segera melihat perkembangan kesembuhan anak saya.

 

 

Hari ke-7

 

Kami menunggu dokter lely seperti biasa untuk segera mengetahui bagaimana kondisi sikecil hari ini, dan saat itu dokter lely menjelaskan bahwa ada penurunan kesehatan anak saya, nafasnya tidak teratur dan ada virus yang aktif dalam tubuhnya. Saya semakin penasaran apa maksud dokter lely, ditambah lagi saat saya bertemu beliau di satu lorong rumah sakit dan saya coba menegaskan lagi dengan bertanya “ dok, tapi anak saya tidak apa-apa kan?”. Jawaban dokter kali ini membuat saya hampir frustasi, beliau menjelaskan “ pak, kalau mau program lagi bisa konsultasi dengan saya” saya semakin bingung dengan penyataan beliau.

 

Saya tanya lagi “dok, maksudnya bagaimana?”, “bapak harus ikhlas apapun yang akan terjadi, hanya doa orang tua dan keluargalah yang bisa membantu.” Lalu saya kembali ke ruangan ICU memang saat itu saya melihat kondisi anak saya tidak seperti biasanya, hari-hari sebelumnya wajahnya begitu tenang, lain dengan hari ini wajahnya agak pucat, kuning dan nafas yang setengah-setengah. Ya Allah hamba memohon berikanlah kekuatan pada anak hamba, bantulah perjuangannya, hamba yakin engkau akan berikan yang terbaik, sambil saya selipkan pikiran positif dan saya bacakan al-faatihah diluar box incubator.

 

Hari ke-8

 

Pagi hari begitu cerahnya saya, istri saya dan mertua saya selalu menunggu dengan penuh harap agar selalu ada kabar baik, tidak lepas kami berdoa, shalat fardhu, shalat tahajud, shalat duha, dan sedekah.

 

Tapi saat itu ternyata, anak saya dalam kondisi drop dan siangnya saya dipanggil untuk masuk dalam ruangan ICU, saya kaget ternyata sudah ada beberapa perawat disekitar anak saya dan mereka terlihat begitu sibuknya, saya penasaran dan mulai mendekati, ternyata anak saya sedang dipompa dadanya dan juga dari mulutnya… astagfirullah hal adzim…ya allah berilah kekuatan pada anak hamba, dan berilah kesabaran pada para perawat yang menangani anak hamba” itulah doa saya saat itu. Dan dengan besar hati serta kesabaran saya berusaha melihat prosesnya walau tidak kuat rasanya menyaksikan perlakuan tersebut. Lalu saya coba untuk ikhlas, sekitar 15-20 menit sedih sekali rasanya tapi tidak mungkin saya tinggal.

 

Saya yakin dengan keberadaan saya disampingnya insyallah dapat menguatkannya, saya memprogram pikiran saya untuk selalu positif dan terus berdoa. Alhamdulillah masa kritisnya sudah lewat, saya ucapkan syukur yang teramat pada Allah dan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada para perawat yang membantu anak saya. 

 

Lalu saya keluar dan bicara pada istri saya, dengan isak tangisnya dia bertanya “ada apa pa? tidak ada apa-apa kan?” saya jawab “tidak apa-apa ma” saya melihat kegelisahan diwajah mertua saya. Lalu setelah mereka agak tenang saya menceritakan yang baru saja terjadi. Mereka kaget dan luar biasa bersyukurnya setelah mengetahui kejadian sebenarnya dan sikecil telah lewat masa kritisnya.

 

Hari ini hari yang luar biasa buat kami karena Allah begitu baiknya dan sebegitu cepatnya doa saya terkabul. Seperti biasanya setiap sehabis shalat berjamaah di masjid saya selalu memasukkan uang ke kotak mesjid dengan selalu berdoa demi kesembuhan anak kami. 

 

Hari ke-9

 

Kami kedatangan tamu lagi dari sanak saudara dan tetangga, dan hari itu kami konsultasi dengan dokter lely, dokter mengatakan kalau dalam saluran nafas anak saya ada benjolan sehingga itulah kemungkinan mengapa anak saya mengalami kesulitan bernafas, dan yang lebih membuat saya kaget ada kemungkinan paru-paru anak saya tidak mengembang, bisa dibayangkan paru-paru kecil ditambah lagi dengan benjolan tidak jelas yang ada disaluran pernafasan, berarti begitu berjuangnya anak saya sampai hari ke-9 bisa bertahan.

 

Lalu saya ceritakan kepada keluarga, tapi saat itu saya senang saya mendapatkan penjelasan dari keluarga kebetulan om atau adik bapak mertua, beliau menguatkan saya tentang benjolan yang terlihat di hasil ronsen itu bukan penyakit, tapi lebih kepada saat melahirkan bisa saja perawat atau dokter melakukan kesalahan prosedur saat mengambilnya dari perut istri saya. Jadi bisa saja tekanan dari tangan perawat yang menyebabkan seperti benjolan, karena memegang tubuh bayi yang masih lunak.

 

Apapun alasannya saat itu saya seperti terbangun dari keputus asaan saya dan dari dugaan-dugaan negative. Semua masuk akal apa yang sudah diceritakan om saya, Alhamdulillah semoga benar adanya.

 

Hari ke-10, ke-11, ke-12, ke-13 berjalan seperti biasa dan memang belum ada perkembangan secara signifikan. Tapi hati saya cukup tenang karena setiap dokter lely keluar dari ruangan selalu senyum pada kami, saya mengartikan kondisi anak saya membaik dan selalu saya selipkan pikiran positif. 

 

Memang seorang dokter tidak boleh memberikan suatu harapan pada keluarga pasiennya, itu kode etik para dokter. Tapi yang saya salut pada dokter lely adalah saat situasi genting dan tak terhindarkan beliau selalu menguatkan saya dengan bicara “ Pak, ilmu kedokteran memang rumit tapi bagi Allah tidak ada yang sulit”. Kata-kata itu semakin membangkitkan semangat saya bahwa anak saya pasti bisa sembuh.

 

Hari ke-14

 

Belum juga selesai cobaan kami, Malam nya anak saya mengalami drop lagi, sehingga saya dipanggil keruangan ICU, suster mengatakan “ Pak, anak bapak drop lagi, tapi kami sudah menanganinya sebaik mungkin, rumah sakit menyarankan agar anak bapak dipindah saja ke rumah sakit kariadi semarang, lagi pula ada pasien lain yang membutuhkan alat tersebut, karena alat kami hanya 2”, saya kaget bukan main sambil saya tatap anak saya dan saya katakana “suster, anak saya belum sembuh, dan malah harus dipindah kerumah sakit lain, apakah rumah sakit akan tanggung jawab jika terjadi apa-apa dijalan? Sudah, pokoknya lakukan yang terbaik saya percaya pada rumah sakit ini”.

 

Lalu saya shalat dan berdoa kembali pada Allah, untuk meminta pertolongan kesembuhan anak saya. Begitu juga keluarga saya yang ikut nunggu di rumah sakit semakin kuat berdoanya dan sedekahnya.

 

Istri saya mempunyai usul, “ pa, itu ada uang 100 ribu, papa keluar deh berikan sama semua orang yang kira-kira membutuhkan” bergegas saya lakukan usul istri saya, dan selesai ditambah lagi setiap habis shalat kami selalu memasukkan uang ke kotak amal dimesjid sambil berdoa.

 

Hari ke-15

 

Saya sangat bersyukur, walau anak saya masih didalam ruangan tapi kami ditemani bapak, ibu mertua dan adik-adik yang tidak pernah pulang kerumah semata-mata ingin membantu dan member semangat kami berdua, juga ibu saya yang selalu menjaga anak pertama saya dirumah, doa mereka pasti langsung sampai pada Allah. Keluarga yang hebat sungguh luar biasa, kamitidak tahu apa yang akan terjadi tanpa dukungan mereka semua beserta doa mereka.

 

Dihari itu, saya dipanggil lagi ke ruangan ICU untuk menyaksikan anak saya belajar bernafas dengan melepas selang ventilator yang ada dimulutnya, memang beberapa kali dicoba tidak berhasil. Cukup membuat kami was-was lagi, karena kami berfikiran apakah ini tindakan rumah sakit demi agar mesin yang dipakai anak saya bisa dilepas. Saya sempat berfikir seperti itu.

 

Tapi pikiran negative itu coba saya hilangkan dengan menggantinya dengan pikiran positif. Memang mungkin sudah saatnya belajar bernafas.

 

Hari ke-16

 

Hari itu saya dan istri lebih intensif masuk ke ruangan untuk memberi semangat dengan memegang tangan anak kami, dan sudah ada respon dengan menggerakkan jarinya dan senyum sedikit-demi sedikit. Istri saya selalu memberikan ASI pada sikecil dari mulai hari ke-4 hingga hari ini. Sebab dokter selalu bilang ASI bisa membantu penyembuhan anak kami. Walau memberikannya lewat Infus yang dimasukkan kedalam selang yang masuk kelambungnya.

 

Lalu saya lakukan lagi sedekah kebanyak orang dan mengisi kotak dimasjid.

 

Hari ke-17

 

Hari yang luar biasa, ternyata hari ini kami mendapat kabar gembira karena tanpa disangka anak saya bisa melepaskan sendiri selang ventilatornya dari mulutnya, sehingga semua perawat kaget anak saya bisa bernafas dengan normal tanpa selang. Dan gerakannya yang sudah luar biasa membuat kami senang dan bahagia melihatnya.

 

Terus terang saya ceritakan peristiwa tesebut terjadi setelah saya memberikan sebuah buku motivasi kepada adik ipar saya, dan saat itu pula suster memberi kabar baik tersebut. 

 

Alhamdulillah wa syukurillah Allah Swt menjawab doa kami dengan menyembuhkan anak kami.

 

Hari ke-18

 

Anak saya dibawa keruangan perawatan intensif khusus bayi setelah mengalami perawatan di ruang ICU khusus anak-anak.

 

Anak saya masih dirawat selama 5 hari diruang perawatan intensif sebab haris menjalani fisioterapi/penyinaran pada tubuh dengan sinar ultraviolet.

 

Dan dihari kelima diruang perawatan akhirnya kami dipanggil dan dijelaskan bahwa anak kami sudah boleh dibawa pulang, dan dijelaskan sedikit cara merawat bayi. Dan setelah itu kami diberikan print-prinan rincian biaya selama dirawat. Dan saya sangat kaget ternyata jumlahnya sebesar Rp.34.000.000 (34 juta).

 

Saya tanyakan pada perawat,” mba biayanya besar sekali bagaimana saya harus bayar saya tidak mempunyai uang sebesar itu”. Suster menjawab bapak kan ikut program JAMPERSAL, jadi bapak tidak perlu keluar uang karena semua sudah ditanggung oleh Negara.

 

Saya memastikan dengan segera pergi ke kasir rumah sakit, saya masukkan dan menunggu panggilan. Setelah dipanggil ternyata benar… saya tidak membayar sepeserpun.

 

Alhamdulillahi robbil alamin, maha besar Allah. Saya telah diberikan Anak yang sehat dan pelayanan yang GRATIS pula. Luar biasa rasa syukur kami.

 

memang tidak ada yang sulit bagi Allah tapi tidak ada yang mudah bagi manusia, karena Allah menyembunyikan kemudahan-kemudahan didalam kesulitan-kesulitan.

 

Begitulah cerita pengalaman saya dan selalu mengingatkan saya akan kebesaran Allah, saat kita mendekat Allah pun dekat, jika kita menjauh Allahpun menjauh.

 

Tanpa ikhtiar yang besar dan penuh pengorbanan mustahil bantuan akan datang, sebenarnya ada doa yang saya panjatkan saat saya berikhtiar atas kesembuhan anak saya… setiap saat saya baca, sehabis sholat, ketika sendiri, setiap saya baca saya merasakan kekuatan yang menyelimuti hati saya dan membuat mental jadi besar.

 

Maka sebenarnya kita harus lebih bersyukur karena masalah yang kita hadapi tidak seberat yang lainnya. Jika anda bisa memilih manakah yang lebih ringan… sebagian besar orang pasti menjawab lebih baik tidak memilih semuanya, tapi ingat sahabatku… semua orang akan dicoba kualitas hidupnya tak terkecuali para nabi…

 

-          Nabi Nuh dengan banjir besarnya dan anaknya jadi korban banjir

-          Nabi Musa dengan kekafiran raja fir’aun yang hendak membunuhnya

-          Nabi Muhammad dengan kaum qurais yang bengis

-          Nabi Ibrahim yang dicoba untuk menyembelih anaknya

-          Nabi Luth dengan penyakit kulitnya yang tak kunjung sembuh

-          Nabi Yusuf dengan wanita yang selalu menggodanya

 

Itu adalah sebagian cerita hidup dari para nabi, yang kalau kita mau berpikir para Nabi saja yang sudah jelas-jelas Manusia Pilihan  oleh ALLAH masih tidak luput dari Cobaan, apalagi kita manusia yang jelas-jelas banyak dosa. Oleh karena kesabaran ,besar hati, selalu berusaha dan berserah diri maka mereka diangkat menjadi Nabi oleh ALLAH SWT.

 

Didalam kesulitan pasti ada kemudahan dan hati-hati didalam kemudahan bersembunyi kesulitan yang siap menghadang kalau kita lalai.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar